Multitafsir, yang Benar Mana?

 

 

Yustinus Lesek (Odi/Jakaportal.com)

Yustinus Lesek (Odi/Jakaportal.com)

 

JAKPORTAL.COM, Jakarta- Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama alias Ahok yang mengutip surat AI Maidah 51. Akibat kutipan tersebut, Ahok pun dilaporkan ke pihak kepolisian lantaran dituding menghina Alquran dan penistaan terhadap agama.

Kasus ini pun mendapat perhatian serius dari sejumlah pihak hingga didiskusikan dalam sebuah acara Televisi Swasta dengan program ILC.

Terkait hal ini, Pemimpin Redaksi Penerbit Obor, Yustinus Lesek angkat bicara. Menurut Yustinus, teks ketika menjadi wacana, selalu pasti multitafsir. Asalinya teks itu netral, otonom dalam dirinya sendiri, karena terlahir dalam konteksnya.

"Namun, ketika konteks berubah, zaman bergeser, teks itu harus ditafsir kembali mengikuti Roh Zaman. Jika tidak, teks itu mati. Di sinilah peluang multitafsir tumbuh karena konteks berubah dan manusia yang adalah makhluk yang terlempar di tengah lautan makna (reff., Martin Heidegger) membawa serta dunianya dalam pelukan tafsirnya sendiri sehingga klaim kebenaran atas makna teks menjadi nisbi," ujar Yustinus, Kamis (13/10).

"Pertanyaan lanjutannya, apakah teks itu kini dibiarkan multitafsir di mana setap orang bisa mengklaim kebenarannya sendiri? Jika iya, siapa yang benar dan mana yang benar?," tambahnya.

Yustinus pun mengandaikan teks sebuah pohon kelapa. Lalu, Sang penyair mendekatinya sambil batinnya melantukan syair cinta kepada keindahan alam dan kekaguman akan penciptanya. Pohon kelapa menjadi sumber inspirasi. Kemudian, tukang bangunan pun mendekat dengan nafsu ingin menumbangnya agar kayunya dijadikan balok. Sang petani merawatnya karena menjadi aset ekonomi.

"Demikian pun manusia yang lain dengan membawa makna dalam diri masing-masing memandang pohon kelapa dari paradigma masing-masing. Tak ketinggalan umat Muslim di hari Lebaran memanjatnya sampai puncak tertinggi untuk mengambil pucuknya yang masih muda untuk membuat ketupat. Para seniman tak ketinggalan, daun-daunnya menjadi bahan dekorasi, dan seterusnya," jelasnya.

Namun Yustinus pun mempertanyakan
andaikan mereka semua berada pada detik yang sama di sekitar pohon kelapa itu, siapakah yang berhak mengklaim kebenaran atas pemaknaan itu?.

Untuk itu Yustinus menilai, disinilah biang keributan dan akar pemerkosaan atas teks yang original dan suci. Parameter kebenaran tetap harus digariskan. Sehingga dalam perkembangan interdisipliner ilmu saat ini, prinsip klaim atas kebenaran selalu menghormati sisi kemanusiaan, solidaritas, originalitas, ekologi, dan harga yg harus dibayar utk semua itu.

"Benar bahwa teks itu tidak boleh mati, maka harus ditafsir mengikuti roh zaman tanpa meniadakan sama sekali makna asalinya. Maka, teks itu dalam wacana harus ditafsir dari konteks utk zaman sekarang. Dengan demikian kita senantiasa merawat ingatan kita dan merumuskan masa depan yg lebih baik dengan pemaknaan yg kontekstual," imbuhnya.

Yustinus pun mengingatkan supaya Jangan juga membawa masa lalu untuk dunia kini dan di sini, tetapi merumuskan masa depan di sini dan kini berdasarkan pemaknaan atas masa lalu itu. Inilah arti sebuah kehadiran (presence) membawa serta pemikiran/pemaknaan yang besar untuk menghadapi tantangan dunia baru yang lebih besar.

"Maka kita benar-benar menjadi anak zaman yang melampau ruang dan waktu, yang hidup kini dan di sini. Aggiornamento, gagasan Konsili Vatican 2 ini relevan untuk dunia interpretatif ini," tegasnya.

Kenyataannya demikian menurut Yustinus bahwasanya tafsiran yang berlaku cenderung kehendak yang berkuasa, entah personal atau komunal, entah otoritas atau mayoritas yang berkuasa saat itu. Dan nyata dalam sejarah, hidup mati seseorang ditentukan oleh klaim atas tafsiran yang paling benar.

"Masih terekam ingatan kita akan nasib Galileo-Galilei yang dihukum mati oleh otoritas suci Gereja pada zamannya; Jerman dengan Nazi dan fasis Hitler membawa korban luar binasa di camp konsentrasi Auschwitz; keputusan menjatuhkan hukuman mati oleh pengadilan dengan eksekusi mati yang kemudian keliru; motif bom bunuh diri dan terkini gerakan ISIS. Dan banyak lagi. Dan merawat ingatan kita yang Nasrani ini, Yesus adalah korban terindah dari claim atas tafsiran ini," terangnya.

"Kita adalah anak zaman, yang merawat semua ingatan itu untuk hadir saat ini dengan merumuskan di sini dan kini tafsiran yang kontekstual dengan parameter "harga yang harus dibayar". Di balik semua itu kita harus rendah hati di hadapan kebenaran, bahwa selagi hayat masih di kandung badan, kita hanya bisa mendekati kebenaran itu dan tak ada yang tuntas menggenggamnya selain Tuhan sendiri,"

Maka Yustinus menerangkan pencarian kebenaran itu dengan interpretasi atasnya harus interdisipliner dengan tetap menjunjung tinggi kemanusiaan, solidaritas, ekologi, HAM, dst. Lebih dari itu, ruang untuk ditafsir baru kembali tidak dikunci rapat dengan keputusan definitif.

"Dengan kesadaran ini saya secara pribadi menolak hukuman mati, karena bersifat definitif dan tak ada ruang untuk aggiornamento dalam penafsirannya sebab dia sudah mati,"

"Terkadang kita sulit melepaskan tautan pernyataan kebenaran itu dari diri sesorang. Tapi, kita harus akui, bahwa ada hukum “otonomisasi teks” yang harus diterima. Artinya, terkadang teks atau penyataan harus dilepaskan dari orangnya. Makna asali teks selalu ada. Tapi itu tidak bisa dipakai sebagai pembenaran karena konteksnya sudah berbeda. Teks harus ditafsir dalam konteks di mana teks itu lahir dan ke mana teks itu ditafsir kembali. Merawat ingatan akan makna asali sebuag teks tetap penting dalam interpretasi supaya kita tidak keliru memaknainya dalam konteks yang baru," pungkasnya.

Odi

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir, melalui email redaksi[at]jakportal.com
beserta dengan biodata lengkap.
Kiriman Anda akan di muat di kanal citizen journalism (Suara Indonesia).
Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi dan mengikuti aturan Jakportal.com

Email Redaksi : redaksi[at]jakportal.com - Iklan : iklan[at]jakportal.com / marketing[at]jakportal.com


jakportal
Rate this article!
Tags:
Has been viewed 244 times