Parinseja

Ads ID: 1579 view: 608
Description product

Judul : Parinseja
Penulis : Steve Elu
Penerbit : Motion Publishing
Terbit : 13 Maret 2015
Tebal : 108 halaman
Harga : Rp. 50.000,-

Parinseja: Gerak Maju Proses Puitika Steve Elu

Penulis puisi Steve Elu, baru saja menerbitkan buku kumpulan puisi. Berikut ini adalah penuturan langsung dari penulisnya, seputar proses kelahiran buku ini.

Selamat membaca.

parinseja steve elu jakportal

Apa judul buku kumpulan puisi Anda yang baru saja terbit?
Buku saya yang baru saja terbit berjudul “Parinseja”. Ini adalah buku kupulan puisi saya yang kedua. Judul buku ini saya ambil dari sebuah dongeng yang sering diceritakan ibu saya waktu kecil. Parinseja adalah seorang puteri cantik yang kelahirannya tidak diterima oleh keluarga, terutama oleh sang ayah. Karena yang diharapkan oleh ayahnya adalah anak laki-laki. Untuk menyelamatkan hidup gadis ini, ibunya membuatkan sebuah rumah sederhana, atau lebih tepatnya gubuk, di atas pohon kapuk yang ada di depan rumah. Ia hanya boleh turun makan dan minum saat ayahnya sedang tidak di rumah.

Sepintas, kisah dongeng ini mengerikan. Namun, saya tetap mengangkatnya menjadi judul kumpulan puisi saya karena saya merasa bahwa warisan budaya – dalam bentuk dongeng, dll – perlu diingat terus, entah itu melulu positif atau juga mengandung nilai-nilai yang tidak relevan lagi untuk masa sekarang. Karena mengingat dapat mengandung arti larangan untuk tidak mengulanginya lagi.

Katanya ini yang kedua. Kalau yang pertama apa judulnya?
Buku kumpulan puisi pertama saya berjudul “Sajak Terakhir”, terbit Juni 2014. Buku ini memuat 76 puisi saya. Jumlahnya hanya beda tipis dengan kumpulan puisi yang kedua, “Parinseja”. Di Parinseja ada 80 judul puisi.

Apa sih motivasi Anda menerbitkan buku kumpulan puisi lagi?
Saya tidak tahu persis apa yang sangat mendorong saya untuk segera menerbitkan buku kumpulan puisi yang kedua ini. Yang bisa saya katakan adalah di buku pertama saya “Sajak Terakhir” saya banyak memuat puisi tentang Ayah. Dan, memang buku puisi itu secara khusus saya dedikasikan untuk mendiang ayah saya yang berpulang pada Januari 2014. Bahkah, bisa dibilang, peristiwa kehilangan itu sebagai dorongan mutlak bagi saya untuk segera menerbitkan puisi-puisi yang saya tulis sebelum dan semasa ia sakit.

Setelah buku ini beredar, beberapa teman mengatakan kepada saya bahwa betapa saya sangat dekat dengan ayah saya sehingga menerbitkan sebuah buku puisi untuk mengenang kepargiannya. Saat mendengar komentar itu, saya jadi merasa ada yang pincang. Bagaimana dengan ibu saya yang masih hidup? Bukankah akan terkesan ‘tidak adil’ karena membuat buku hanya untuk ayah saya?

Nah, bila mau ditarik benang dari lajur ini, maka “Parinseja” lahir untuk memenuhi kerindunan dan bentuk pernghargaa kepada jasa-jasa baik ibu saya. Meski begitu, baik di buku puisi pertama dan buku kedua ini, puisi-puisi bertema ayah dan ibu tetap ada. Cinta saya kepada keduanya jauh melampaui kata-kata yang padat dalam puisi-puisi ini.

Berapa lama proses menulis puisi-puisi dalam Parinseja ini?
Meski buku pertama sudah saya kirim ke percetakan, saya tak pernah berhenti menulis puisi. Setiap hari, minimal satu puisi harus berhasil saya tulis. Itu artinya, puisi-puisi yang saya tulis sejak April 2014 (waktu draf buku puisi pertama dikirim) hingga November 2014 (waktu draf puisi kedua dikirim) masuk dalam buku kumpulan puisi kedua ini. Sekitar lima puisi juga yang saya tulis di 2013 dan tidak sempat saya sertakan di buku puisi pertama, saya masukan dalam kumpulan ini.

Bagaimana dan kapan Anda menulis puisi?
Seturut pengalaman saya, saya bisa menulis puisi kapan saja dan dimana saja. Kenapa bisa demikian? Karena saya tidak bisa menulis puisi pada waktu yang sudah dikondisikan. Misalnya, jam 8 malam saya akan duduk di depan komputer atau laptop untuk menulis puisi. Ide atau tema puisi biasanya mucul begitu saja tanpa memandang saya sedang apa atau dimana. Lagipula, saya bukan seorang pengingat yang baik. Ketika ide puisi itu muncul harus segera saya tuliskan. Kalau tidak saya akan lupa dan susah untuk menemukannya lagi.

Untuk mensiasati agar tidak terjadi ‘kehilangan’ itu, saya sering menulis puisi di jalan. Saat mengenderai motor dan saya terpikirkan akan sebuah tema, saya akan berhenti dan membuat catatan tentang tema itu di handphone saya. Tema itu akan saya kembangkan lagi saat sudah di depan laptop. Terkadang saya juga menulis puisi saat sedang di stasiun kereta, saat menunggu seseorang, atau saat sedang membaca di toko buku. Intinya, dimana ide puisi muncul, di saat itulah saya menulis. Proses penyempurnaan nanti kalau sudah di kantor atau di rumah.

Dalam situasi dan kondisi seperti itulah puisi-puisi dalam “Parinseja” saya tulis. Mereka bukan hasil dari daya peras otak di waktu tertentu, melainkan ide yang berseliweran di kepala saya di tengah-tengah kesibukan bekerja dan kesulitan tidur malam.

Apa keunggulan dari buku “Parinseja”?
Soal unggul atau tidak, sepenuhnya saya serahkan kepada pembaca. Merekalah yang akan menilai, apakah “Parinseja” punya tempat di hati mereka atau tidak. Tapi yang bisa saya katakan adalah puisi-puisi dalam “Parinseja” adalah satu gerak maju dalam proses saya menulis puisi. Saya akui bahwa proses pencarian saya untuk menemukan karakter puisi yang kepadanya namanya saya akan dikenang masih sangat jauh. Tapi di “parinseja” proses puitik saya mengalami perkembangan, bila dibanding dengan buku yang pertama. Saya bangga akan itu. Karena ia menunjukan hasil eksplorasi saya pada dunia puisi yang merupakan satu rumpun kecil dalam sastra yang tidak pernah tuntas untuk dikupas dan ditulis. Dalam keyakinan seperti itulah saya terus berproses. Dan saya yakin proses pencarian karakter ini masih akan terus berlanjut di kumpulan-kumpulan puisi saya yang akan datang.

Apa yang bisa Anda sampaikan ke pembaca Anda?
Menulis puisi ibarat seorang petani yang mengolah sawah atau ladangnya. Tahun demi tahun ia mengembangkan daya olahnya agar hasil panen dan pendapatan terus meningkat. Jika tahun ini ia hanya menanam padi, maka tahun depan ia akan menambahkan kacang panjang di sepanjang pematang sawah atau pagar kebunnya. Atau, ia akan menanam jagung usai memanen padi di lahan yang sama.

Begitulah saya menulis puisi. Ada pengetahuan dan pengalaman puitik baru yang coba saya tambahkan di setiap puisi yang saya tulis kemudian. Tujuannya hanya satu, ingin mencari karakter puisi yang sesuai dengan karakter saya, dan pembaca akan mengenalinya: puisi itu adalah saya dan saya adalah puisi. Contohnya, ketika kita mendengar frasa “aku ingin” sadar atau tidak imajinasi kita langsung tertuju kepada Sapardi Djoko Damono. Demikianpun, saat bertemu atau mendengar nama Sapardi, yang terbersit dalam ingatan kita adalah “aku ingin”. Nah, saya bercita-cita ingin seperti itu.

Memang, perjalanan untuk sampai ke sana masih panjang. Masih butuh banyak referensi yang harus dibaca dan masih banyak tenaga ekstra yang mesti ditumpahkan. Bagi teman-teman yang akhirnya memutuskan jadi penyair, dengan sepenuh hati saya ajak untuk mari sama-sama menziarahi perjalanan puitik ini. Tidak ada kata terlambat atau selesai. Karena proses belajar berlangsung sepanjang hayat. Mari berjuang kawan!

Untuk mendapatkan buku ini, silakan hubungi:
Penerbit Motion Publishing: 081281977257.